Rabu, 05 April 2017

Cinta yang Baru

Baca dulu:

Chapter 2: Sang Mendung

Ceritanya ini adalah setoran pertama untuk tantangan selama satu minggu dan membayar setoran tantangan menggunakan kalimat pertama di buku halaman 24 paragraf 5.

Lisa menyambutku dengan antusias. (Cinta yang Baru, Ahimsa Azaleav, Hal.24 paragraf 5)

Lisa menyambutku dengan antusias. Aku mengernyit bingung. Tidak biasanya Lisa seantusias ini.

"Ada apa?"

"Ada kiriman buat kamu."

"Sepagi ini?"

"Iya. Buka dong bukaaa. Penasaran niih."

Lisa adalah sepupuku yang kebetulan sedang menginap selama satu minggu di rumahku. Aku sudah menceritakan tentang 'Mendung' kepadanya. Dan semalam aku tidak pulang ke rumah karena harus menginap di rumah sahabatku, Gigi.

"Dari siapa?"

Sebelum menerima sesuatu, aku terbiasa bertanya siapa pemberinya.

"Sebelum hujaaan. Hahaha."

CRAP. Wajahku langsung menegang.

Kubuka kotak hijau itu dan isinya adalah sebuah buku berjudul "Cinta yang Baru" karya Ahimsa Azaleav.

"Wow."

"Kenapaa?" Lisa penasaran.

Kamis, 02 Maret 2017

SBT OWOP: Rapat Dadakan dan Rencana Baru

Ini adalah SBT OWOP. Apa itu SBT? Story Blogtour!
Dan kali ini temanya adalah Friendship! Yahuuuwww~~

Oiyaaa baca dulu yaa chapter-chapter sebelumnyaaa~~ Wkwkk

Chapter 1: Misteri Dana Operasional
Chapter 2: Pertemuan
Chapter 3: Perbincangan di Kafe
Chapter 4: Misi Wanda
Chapter 5: Ide Fiki
Chapter 6: Kedatangan Pria Misterius
Chapter 7: Terkuak
Chapter 8: Rapat Dadakan dan Rencana Baru

Here we goooo~~~~~~

“Dimas?” Wanda tercekat. Lebih tercekat lagi ketika ia tahu siapa yang berdiri di depan Dimas. “Damar?” 

Oh, god. Dimas, Darma. Dimas, Darma. Setelah terdiam cukup lama, Wanda baru menyadari sesuatu. Jangan-jangan.. [Cerita Sebelumnya] 

Wanda segera membekap mulutnya sendiri. Ia mengambil langkah pasti langsung berjongkok di dekat sebuah pot tanaman yang cukup untuk menyembunyikan dirinya dari penglihatan mereka berdua.

Ada apa ini? Darma? Tapi…tapi kenapa?

Seketika episode demi episode yang telah mereka lalui berkelebat begitu saja. Kenapa ia tidak curiga sejak awal pertemuan mereka? Darma yang tiba-tiba saja ikut bergabung. Lalu, kebetulan-kebetulan rapi lainnya yang berkaitan dengan Darma yang selalu bisa mendapatkan momen seolah menangkap basah Dimas beserta kepala sekolah dan wakilnya. Itu semua ternyata disengaja! Sayangnya, handphone Wanda tertinggal di dalam tasnya yang masih berada dalam kafe itu. Arrrghh! Ia harus segera berpikir! Tiba-tiba saja,

Senin, 27 Februari 2017

Sang Mendung

"Cinderella Dalam Botol", begitu judul cerita yang aku buat malam ini. Kutinggalkan ponselku sebentar. Lalu ketika aku kembali, kudapati sebuah notif messenger.

From: Mendung
Bagaimana jika ternyata Pangeran memendam perasaan yang sama pada Merah? Ceritamu gantung.

Aku kaget. Siapa orang ini? Aku pun membuka profil orang yang bernama 'Mendung' ini. Hanya ada gambar-gambar awan yang mendung. Tidak kutemui mutual friend di profil facebooknya. Lalu kujawab saja asal padanya.

To: Mendung
Kalau begitu mungkin Pangerannya bisa menemui ayah Si Merah untuk membuka segelnya.

Hanya dibaca. Tanpa balasan.

"Dasar, orang aneh."gumamku saat itu.

***

Hari yang kunantikan telah tiba. Festival dongeng internasional. Museum Nasional. Ah, aku sangat suka berada di museum. Menyenangkan sekaligus menenangkan. Seperti bisa menyusuri diri sendiri.

Aku pun bergegas menuju meja penerimaan tamu. Menuliskan nama. Tiba-tiba saja,

"Mbak Ara Diara ya?" Salah seorang wanita yang duduk menjaga meja itu menatapku. Aku bingung.

"Iya. Ada apa?" Alisku mengerut berpikir.

"Ini ada titipan." Wanita tadi menyerahkan sebuah plastik kecil kepadaku.

"Buat aku? Dari siapa?" Aku masih kebingungan. Masa iya ada pembagian doorprize untuk pengunjung telat sepertiku? Jadi aku berusaha meyakinkan bahwa itu memang untukku.

Cinderella Dalam Botol

"Huhuhu..." Seorang gadis kecil menangis di bawah pohon Ek.

Angin berhembus sangat kencang. Gadis itu tau sebentar lagi ibu peri akan datang. Benar saja, ia kemudian mendengar langkah yang mendekat.

"Kamu kenapa, Merah?" tanya ibu peri.

"Aku sedih, Ibu Peri. Aku selalu dihina sebagai gadis pendek." Ya, dialah si Kurcaci Merah. Satu-satunya dari bangsa kurcaci yang tersisa.

"Hmm... Kamu pernah mendengar tentang Cinderella?"

Merah menghapus air matanya.
"Pernah."

"Kamu mau berubah menjadi gadis cantik dan berdansa dengan pangeran?"

Merah membelalakkan matanya tak percaya.

"Sungguh? Ibu Peri bisa mengubahku? Lalu, apakah aku akan berubah lagi menjadi gadis pendek ketika jam 12 malam?"

Merah tak ingin terlalu senang lebih dulu.

"Tidak. Hanya saja, syaratnya lebih berat."

"Apa itu, Ibu Peri? Kenapa harus lebih berat dari Cinderella?"

Minggu, 19 Februari 2017

Serendipiti


"Mbak Ara gimana kuliah di sana? Enak nggak?" Seorang wanita berjilbab biru muda menyapaku.

"Alhamdulillah selalu ada hal menarik." Aku tersenyum.

"Jadi, Mbak sementara mau research di sini? Makanya ditugaskan juga buat studi banding sama kehidupan pelajar Indonesia yang kuliah di sini?" Kali ini, Nurma si gadis berjilbab merah jambu yang bertanya.

"Iya, sambil menyelam minum air. Hehe." sahutku pada mereka.

"Assalamu'alaikum." Tiba-tiba saja seorang lelaki datang bergabung dalam perkumpulan kami.

Selasa, 17 Januari 2017

Cinta dan Benci

Yang belum baca kisah sebelumnya, klik di sini

This story is written by Ara and Jiva~~

Photo by: Dini Riyani

Itu dia. Cintaku dan si bajingan. Aku tidak mengerti mengapa Ara bisa sampai begitu mencintainya. Padahal dari sudut pandang apapun, aku jauh di atasnya. Dari segi postur, jelas aku lebih tinggi. Kecerdasan, ah dia biasa-biasa saja. Aku lulusan kampus negeri, dia swasta. Bisa apa kampus swasta. Cuma mencetak manusia robot yang siap bekerja di tangan para kapitalis.

Kebetulan aku sekelompok dengannya di kelas skoring Speaking. Dalam urusan skoring ia selalu kalah denganku. Aku mendapat 5.5 sedangkan dia Cuma 5. Ada satu momen terlucu, di mana dia pernah salah memberi jawaban di sesi ketiga skoring IELTS. Mr.Miftah bertanya tentang “apa yang biasa orang-orang beli jika berwisata ke Indonesia.” Ada kata buy di akhir ucapaan Mr.Miftah. Konyolnya perkataan tersebut disalahpahami oleh Najib. Ia malah menangkap kata buy (membeli) dengan by (oleh). Alhasil jawabannya pun terdengar konyol. Ia menjawab:

Rabu, 30 November 2016

Surat Buat Ayunda~

Teruntuk kamu, si butiran debu..

Assalamu’alaikum, kesaksian mata kesayanganku J

Sebelumnya, tolong sampaikan rasa terima kasih saya pada ibundamu ya. J Yang beberapa tahun lalu telah berjuang melahirkan kamu ke dunia ini sehingga kamu bisa bertemu bidadari secantik aku. Wakakakak.

Tau kenapa aku menulis surat ini?

Soalnya aku lagi kangen berat sama kamu. Daaaan… habis baca scrapbook yang kamu dan si mata panda bikin. Ceritanya mau membalas surat lucu dan bikin haru yang kamu kirimkan. Hahaha. #Telat Semoga ketika kamu melihat surat ini, kamu sedang dalam keadaan yang sehat dan selalu ‘alay’ seperti biasanya. :p

Berikutn saya akan lampirkan surat hutang kepada anda, saudari butiran debu. Hutang kenangan yang nggak akan pernah sirna. #eaaa

Pertama kali kita ketemu yaa? Hmm… pertama kali kita ketemu adalah di dunia maya. Yang ketika itu dini sampai bilang dalem hati ‘ya ampun ini orang ngocol amat yak.. baru juga kenal udah minta jawaban ospek aja. Alay lagi bahasanya.’   Nyadar kagak? Hahaha

Eh, nggak nyangka pas pertemuan mahasiswa baru di gedung B.101 entah kenapa yakin aja kalau orang yang duduk di belakang adalah si butiran debu. Koreksi dikit sama suratmu yak!

“Mata..” Dengan suara yang supeeeeeeerrr lembut bin kalem

“Dini..” Dengan suara yang becek-becek banjiiir. Hahaha peace.

Setelah itu benang persahabatan terjalin begitu saja. Tapi ada satu yang bener-bener dini pengen minta maaf. Waktu kita baris di depan balairung, dini ninggalin kamu buat main sama yang genk-an awal. Tanpa rasa bersalah, adindin meninggalkanmu sendirian. Yundaa… maafkaaan ;_;

Berikut Lampiran Surat Hutang: