Sabtu, 08 Oktober 2016

"Story Blog Tour" Challenge with OWOP (One Week One Paper) II [Romance-Angst]

Chapter 1: Luka Elisa - Nifa
Chapter 2: Self Harm - Asti

Chapter 3: Friendzone

Tempat ini tidak terlalu ramai. Maklum saja hari ini bukan hari libur. Kebetulan sekolah mereka sedang libur karena rapat para guru.

“Gimana? Feel better now?” Tezar menatap Elisa dalam-dalam.

Elisa hanya tersenyum samar. Tezar menghela napas.

“Nih, minum dulu deh. Abis itu kita coba yang itu ya?” ucap Tezar sambil memberikan air mineral pada Elisa.

Elisa hanya mengangguk dan menggenggam air mineral yang diberikan Tezar.

Dua jam yang lalu, Tezar membawa Elisa keluar dari rumah gadis tersebut lewat jendela kamarnya. Gadis ini butuh diselamatkan, begitu pikirnya. Ia pun membawa gadis itu ke sini. Dunia Fantasi. Berharap kesedihan gadis itu sedikit memudar.

“Pak, saya boleh request tiga puteran kan?”pinta Tezar pada petugas wahana.

“Ng..Tapi, Dek...” Petugas itu ragu sejenak.

“Tolong, Pak. Demi temen saya. Liat deh, mukanya sedih gitu. Butuh hiburan.” Akhirnya Tezar berhasil meyakinkan petugas tersebut yang menatap iba pada Elisa.

***

“Gimana, El? Udah kayak burung belum sekarang? Kita terbang, El!! Hehe.”canda Tezar yang disambut lengkung pelangi terbalik milik Elisa.

Elisa menatap gedung-gedung kota Jakarta dari atas bianglala. Dia ingat, dia pernah berkata pada Tezar tentang cita-citanya.

“El, cita-cita lo mau jadi apa?” tanya Tezar tiba-tiba saat di pasar burung.

Elisa seperti berpikir sejenak.

“Hmm...Burung?”jawab Elisa setelah Tezar tahu mengenai alasan luka di tangannya.

“El, plis deh. Mentang-mentang kita di pasar burung.”

Elisa tertawa pelan.

“Gue serius, Zar. Gue berharap bisa terbang dan kabur dari semua ini, Zar. Gue pengen bebas. Gue pengen bahagia.”

Tidak Elisa sangka, Tezar masih ingat cita-cita konyolnya.

“Ngelamunin apa, El?” Tezar tersenyum tulus pada Elisa.

“Zar, thanks for bring me this high.” Elisa membalas senyum Tezar setulus hati.

Ah, rasanya ingin sekali Tezar melihat senyum itu setiap hari. Ingin sekali ia terus berada di sisi Elisa. Menjadi tamengnya, pelindungnya setiap saat. Tapi ia berpikir bahwa begini saja sudah cukup. Asal ia selalu ada saat Elisa membutuhkannya, itu sudah lebih dari cukup.

***

Beberapa hari yang lalu,

“Zar, lo sama Elisa gimana sih?” Gio, satu-satunya sahabat yang paling dekat dengan Tezar bertanya.

“Gak gimana-gimana.” jawab Tezar dengan nada bercanda seperti biasa.

“Jangan bohong lo! Keliatan banget itu perasaan lo, woy!” Gio memukul lengan Tezar.

Tezar diam sesaat. Ya, Gio adalah satu-satunya orang yang paham akan dirinya.

“Gue bingung, Gi. Gue sayang banget sama dia. Tapi gue takut.”

“Takut apaan?”

Tiba-tiba Tezar teringat pertanyaan bodohnya pada Elisa.

“El, lo pernah suka sama cowok gak?Hehe.”Elisa sedikit terkejut dengan pertanyaan Tezar.

“Gue gak mau mikirin itu dulu, Zar.” Elisa menggigit bibirnya.

“Kenapa?”

“Mungkin agak konyol, tapi gue takut bakal berakhir kayak bokap dan nyokap gue.”

“Tapi kok lo mau cerita sama gue, El? Kan gue cowok?” tezar berharap sebuah jawaban yang memuaskan.

“Gue nggak tau, Zar. Tapi lo itu udah gue anggep sebagai sahabat sekaligus kakak buat gue.”

“Oh, gitu ya, El.” Tezar sedikit kecewa.

Gio menghela napas seolah mengerti. Menyimpulkan sendiri lamunan Tezar berdasarkan asumsinya.

“Oke, Zar. Gue paham.”

“Lo emang ngerti gue banget, Gi.” Tezar terharu.

“Iya, gue paham kalo lo takut ditolak. Secara, lo adalah cowok di bawah standar.” Gio menatap Tezar prihatin.

“Sialan lo, Gi!”

***

Mereka sudah tiba di depan rumah Elisa. Wajah Elisa sudah sedikit cerah.

“Sekali lagi makasih ya, Zar. Maaf gue selalu ngerepotin. Hati-hati di jalan ya, Zar.” Elisa berkata sambil mengembalikan helm pada Tezar.

Elisa pun berbalik untuk pergi.

“El...” panggil Tezar. Elisa menoleh.

“Ya?”

“Jangan lupa senyum dan inget kalo lo butuh gue, gue selalu ada buat lo.” Wajah Tezar memanas. Bodoh, kenapa gue bilang gini sih? Maki Tezar pada dirinya sendiri. Elisa sedikit kaget. Buru-buru Tezar menambahi,

“Yaa, jangan lupa juga uang bensinnya. Bill menyusul. Hehe.” Elisa tertawa pelan.

“Siap, Zar!” Dia pun kembali berbalik.


Ah, punggung itu. Padahal ingin sekali ia mengejar Elisa dan memeluknya agar tak kembali kepada kesakitan. Namun ia sadar ada di zona mana ia sekarang. Zona yang sering orang-orang sebut sebagai... Friendzone.

-to be continued-

Chapter 4: Dua Sisi Koin - Nana

6 komentar:

  1. I have a 'friend'
    I have a 'zone'
    Uhh! Friendzone!

    #ngulang #bodoamat

    Agak cheesy, yah. Entar belok jadi komedi, nih... *dikeplak*

    BalasHapus
  2. Sebenernya dari aura gelap yang gue rasakan di episot satu dan dua, entah kenapa berubah pas gue sampe episode ini xD

    Dini selalu berhasil melintir cerita :V

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perasaannya lagi romance soalnya, Kak. :p

      Hapus
  3. "Jangan lupa senyum dan inget kalo lo butuh gue, gue selalu ada buat lo"
    langsung lumer denger Tezar bilang ini ke aye.. #lah salah wooi.. ke Elisa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakakak. Jangan baper, Mbak. :p

      Hapus